Anisa Murdiyanti
Kamis, 03 Mei 2018
Tertawa Untuk Menutupi Kesedihan
Kamis, 02 November 2017
Tak Yakin Lagi
Aku sempat yakin. Yakin seyakin yakinnya. Saat itu, aku yakin padamu. Aku percaya. Aku menaruh harapan padamu karena kau meyakinkan aku.
Bahkan aku ingat sampai sekarang bagaimana usahamu meyakinkanku.
Tapi, sekarang, kau seolah-olah tak pernah meyakinkanku. Kau tak pernah berucap. Kau tak pernah berjanji.
Aku bukan mengharapkan materi. Aku mengharapkan kebahagian, yang saat itu kau yakinkan aku jika kau akan bahagiakan aku.
Aku, sulit percaya.
Sulit yakin.
Sulit berharap.
Hatiku sudah ngilu.
Kau bekukan lagi.
Sampai ia tak bisa merasa apa-apa.
Selasa, 03 Oktober 2017
Aku..
Aku patah.
Aku tahu, seharusnya aku tak patah.
Aku tahu, dewasa bukanlah pilihan. Tetapi jalan meraih tujuan.
Jika menjadi dewasa harus menghilangkan suatu kebiasaan, aku tahu, itu mutlak keharusan.
Aku tak mau bicara kehilangan.
Karena kata kehilangan sudah cukup sakit dari rasa kehilangan itu sendiri.
Tapi, apa aku boleh menentang dengan egois?
Kalau boleh, aku ingin berkata.
Kenapa memulainya dari awal jika akan berujung seperti ini?
Sekali lagi,
Aku tahu,
Dewasa adalah jalan meraih tujuan.
Senin, 28 Maret 2016
Worry.
Minggu, 14 Februari 2016
Kamu.
Asal kamu tahu.
Akulah yang beruntung memilikimu.
Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Karena kamu lebih dari sekedar luar biasa bagiku.
Kamu menjadi diri kamu sendiri. Itu yang membuatku bangga. Kamu itu hal yang aku keselin tapi juga aku sukain.
Aku beruntung. Bener-bener beruntung punya kamu. Bukan kamu yang beruntung punya aku, karena aku gabisa kayak kamu. Sikap tertutup dan malas basa-basiku yang mungkin bakal buat kamu jenuh bahkan aneh melihat orang sepertiku.
Karena itu, aku yang beruntung memilikimu. Dan karena itu, aku takut kehilanganmu-AJ.
Minggu, 25 Oktober 2015
Yang Ber-Arti.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku bisa belajar.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku tak kenal kebohongan.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku mendapat kasih sayang.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku menyentuh ketulusan.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku berhenti egois.
Yang aku tahu, sama mereka itu aku mengerti arti SAHABAT.
Klise, sahabatan lama, main bareng, pisah, tetep kontakan, main bareng lagi, meet up.
Tapi dari setiap hal yang sudah kami lewati, aku sadar. Ada banyak hal yang membuatku tak henti bersyukur memiliki mereka.
Dan yang aku tahu, disaat kami sudah menjalani kewajiban kami, aku tetap merasa kami dekat. Entah sejak kapan aku merasa bahwa mereka tak pernah jauh dariku sekalipun jarak memberi tanda nyata. Sekalipun aku berada dititik terpurukku dalam hidup, mereka salah satu hal yang membuatku sadar jika aku masih diinginkan hidup.
Tetep sayang sama mereka itu adalah bentuk rasa syukur aku sama Allah, karena udah ngasih orang yang seperti malaikat, selalu deket walaupun tak terlihat. I love them so much!
Pict: My birthday. So late, but showed if i means for them!
Sabtu, 09 Mei 2015
Langit Malam
1 hal yang aku tahu. Kita mempunyai 1 kesamaan. Sama-sama suka mengamati langit malam. Melihat bintang silih berganti berkelap-kelip. Menerawang bulan yang suka ditutupi awan. Mengamati warna langit seakan memberi pesan terselubung diantara awan-awan.