Kamis, 03 Mei 2018

Tertawa Untuk Menutupi Kesedihan

Aku sebenarnya tak mengerti dengan istilah 'tertawa untuk menutupi kesedihan'. 
Bagaimana ia bisa tertawa, kalau hatinya sedang tak merasa bahagia? Aku sendiri, jika sedang tidak bahagia, aku tak akan mau beraktivitas. Karena aku akan larut sebentar dengan rasa sedihku. Mungkin sedikit menikmati kesendirian. Merenungkan kepedihan. Hanya sendiri. 

Tapi. 
Aku merasakan istilah itu malam ini.
3 Mei 2018.
Aku tahu, terlambat untuk mengerti arti istilah tersebut. Aku terlalu tidak merasakan bagaimana istilah tersebut bekerja. 
Tapi malam ini, hari ini, aku merasakannya. 
Disaat masalah yang aku hadapi datang silih berganti. Memang tak berat. Tapi cukup kuat untuk membuahku poyah.
Akupun semakin menutup diri untuk tidak menceritakan masalahku. Karena aku sudah lelah menghadapi masalah ini, aku juga lelah untuk berfikir dan menceritakannya lagi. Hanya sekedar, bercakap dengan batin dan logika. Bertarung mana yang benar. Berselisih mana yang ikhlas. 

Tapi, dari rentetan yang terjadi. Hari ini aku melepaskannya. Menghilangkannya. Memudarkan sedikit bayangannya. 
Aku tertawa. Lepas. Tak terhenti.
Miris sebenarnya. 
Mereka yang tertawa bersamaku, betul-betul tak tahu apa yang terjadi padaku sedetik sebelum aku berhambur tawa dengan mereka.

Yang aku miriskan, aku tertawa, karena kesedihan ini.
Seperti aku menertawakan kesedihanku. 
Menertawakan kemalanganku. Menertawakan diriku.

Mereka tertawa karena banyolan dan cablakku. 
Aku tertawa karena kasihan pada diriku sendiri, yang hampir seminggu menahan gejolak air tak tertumpa karena logika dan hati sedang memenangkan sesuatu.

Bagian mana lagi yang tak miris? 

Tertawa untuk menutupi kesedihan. 

Aku takut orang lain tahu kesedihanku? 
Bukan. 
Aku takut orang lain tahu kelemahanku? 
Bukan.

Aku hanya sedang meyakinkan diri, semua masalah selalu ada jalan keluar.
Semua masalah selalu meninggalkan pelajaran.
Semua masalah, akan cepat berlalu jika kita ikhlas menerima.